Belajar Gamelan dari YGF ke 21

Ygf 21

Jumat siang, 22 Juli 2016, kawan komposer saya yang tinggal di Jakarta, Rocky Irvano ke jogja untuk menyaksikan pembukaan Festival Gamelan yang ke-21. Saya pun tertarik untuk menonton perhelatan yang satu ini.

Pada tahun ini, Yogyakarta Gamelan Festival telah diselenggarakan sebanyak 21 kali. Namun, ini merupakan pertama kalinya saya menyaksikan secara langsung.

Sebelum acara dimulai, kami menyempatkan diri untuk menyaksikan ruang pameran. Di ruang itu beberapa instrument yang biasanya terlibat dalam satu gamelan dipajang.

Ada dua hal yang menarik bagi saya dalam pameran ini; pertama, tulisan Sapto Raharjo. “Gamelan is a spirit, not an object, ” says Sapto Raharjo, “the instruments are just the medium.” Kedua adalah untuk pertama kalinya saya melihat gamelan seperti ini. Di situ tampak bahwa gong dan binang tersaji dalam bentuk yang lebih kecil, praktis, dan memiliki lobang resonansi bertupa kayu berlubang di bawahnya. Saya lupa apa nama perangkat ini, semoga saya menemukan namanya di kemudian hari.

Setidaknya ada 4 catatan yang berkesan bagi saya pribadi mengenai pertunjukan pada hari pertama ini.

1. Optimis bahwa gamelan masih akan menggeliat setidaknya untuk 2 generasi ke depan. Kelompok ini bernama Genta Sawitra Saraswati pimpinan I Ketut Ardana. Energi gamelan yg dimainkan anak-anak memperlihatkan keceriaan dan permainan tanpa beban mereka, saya kembali sadar akan betapa menyenangkannya musik itu. Seorang bocah kecil laki-laki memainkan instrumen semacam “kethuk”. Sebuah alat yang mengharuskan pemainnya memainkan satu nada dengan ritmis tetap/ ostinato. Pandangan saya juga tidak bisa lepas dari 2 pemain kendang yang tampak percaya diri memainkan permainan bebarengan maupun permainan saling mengisi atau interlocking.

2. Saya orang yang bekerja dalam kekakuan dan grid dalam musik yang saya kerjakan. Sewaktu mendengar permainan dan energinya, saya ingin menertawai diri sendiri yang sering menggunakan vst gamelan. Dan saya sangat mengandalkan quantize. Maka, Bagaiamana bisa vst akan menggantikan permainan ini. Apalagi jika seorang pemain saja yang membuat musik gamelan dengan sistem multitrack di rekam satu-satu; pasti tidak akan bisa. Sebab, Variasi mulur mungkretnya tempo itu membuat musik begitu hidup. Setiap pemain instrumennya menyumbang emosi dalam musik yang terdengar dan kembali menyadarkan saya betapa nikmatnya pengalaman memainkan musik bersamaan dengan orang lain.

3. Penampilan ketiga adalah komposisi-komposisi musik karya David Kotlowy dari Australia. Saya harus malu, sebab seorang dari negeri lain mengolah gamelan hidup sementara saya sendiri yang mengaku berprofesi seorang komposer di Indonesia amat jarang menghasilkan karya musik dalam sajian gamelan hidup. Semangat ini memberikan dorongan saya pribadi untuk semakin berani membuat musik menggunakan gamelan.

Dalam karya-karya ini terasa sekali ada rasa beat dalam sukat-sukat yang dipilih. Ini semakin terasa karena tampaknya gong besar selalu dibunyikan pada ketukan pertama. Lapisan-lapisan teksturnya sangat rapi nan teratur. Terasa juga bahwa dinamikanya cukup bersahaja. Yang menarik adalah kendang tidak dimanfaatkan dalam karya ini. Sang komposer sempat menyampaikan bahwa sangat sulitlah menuliskan kendang. Padahal kendang akan mampu “merusak” -dalam arti positif- rasa beatnya yang teratur. Namun, semua adalah keputusan komposer. Toh, Karya ini sudah sangat menggugah saya pribadi untuk menggunakan gamelan dalam komposisi selanjutnya.

4. Satu lagi yang paling ingin saya catat adalah perkataan Ari Wulu sang host dan garda depan penyelenggaranya adalah mendorong kita untuk memanfaatkan gamelan demi pelestariannya.

“Silahkan gamelan ini dibuat apa saja…”

Ungkapan ini adalah cerminan dorongan dan pembebasan berpikir yang mungkin menjadi solusi untuk pelestarian gamelan. Jika gamelan adalah sebuah spirit, maka pastilah ia akan selalu ada; baik dalam medium instrumen satu set perkusi yang ada selama ini atau pun dalam medium-medium instrumen yang lain. Dalam wujud instrumen yang lain, roh gamelan akan tetap bisa hidup. Baik dalam pengaruhnya pada garis melodi, gaya ritmis, tekstur, sikap, energi, dan suasana.

Akhir kata selamat dan terimakasih atas pengalaman ini.

Salam Budaya !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *