Catatan dari Lomba Cipta Lagu untuk Pendidikan Anak Usia Dini

image

Adalah suatu kesempatan yang menarik, bisa berbincang dengan Djito Kasilo yang merupakan salah satu juri lomba cipta lagu PAUD 2016, setelah acara penyerahan hadiah Cipta Lagu Paud di Taman Mini Indonesia Indah.

Beliau adalah seorang ahli psikologi dan mendalami komunikasi serta cukup intens dengan aktivitas menulis dan menyebarluaskan lagu pendidikan untuk anak-anak melalui situs www.marinyanyi.com

Setelah acara penyerahan hadiah, saya memiliki kesempatan untuk menanyakan pada beliau mengenai dua hal;

1. Berdasarkan lagu-lagu yg terkumpul kemarin, sebenarnya apa yang masih kurang? Aspek apa yg harusnya ada, tetapi tidak didapatkan dalam kompetisi ini?

2. Apa benar, nyanyian itu akan berpengaruh pada seorang anak? Mengapa saya tidak merasa dipengaruhi oleh lagu anak di masa kecil saya?

Menjawab persoalan yang pertama, Pak Djito mengamati bahwa lagu-lagu yang dikumpulkan kurang memandang fungsinya sebagai piranti belajar. Sebagai piranti belajar paud, seharusnya tema yang dipilih menyesuaikan 17 tema yang dimiliki Paud dalam kurikulumnya. Maka sebaiknya, seorang penulis lagu untuk Paud mempelajari terlebih dahulu tema-temanya. Kemudian secara langsung memilih salah satu tema itu. Sekali lagi, penekannya adalah pada tingkat fungsi.

Beliau menceritakan; salah satu tema pengajaran adalah tentang profesi. Di lapangan, pengajar Paud hanya menemukan 1 lagu tentang itu; yaitu “Aku Tukang Pos”, yang mana pekerjaan itu pun susah ditemukan di masa ini. Maka, beliau pernah mencoba menulis tentang profesi lain untuk kepentingan pengajaran.

Untuk pertanyaan kedua, ada dua inti jawaban yang saya ingat;

Satu,
beliau mengutarakan bahwa sebenarnya lagu yang kita dengar dan nyanyikan ketika kecil memiliki pengaruh. Namun, pengaruhnya ada pada tingkat bawah sadar. Di samping itu, sesuatu yang disampaikan melalui lagu lebih mudah diingat. “Ah masak pak, betulkah. Sudah ada penelitiankah soal ini, Pak?” Saya mencoba menanyakan lebih jauh. 😛
Beliau menjawab ,” ya, saya sendiri yang melakukan penelitian tentang ini.” 😉

Kedua,
Menyanyi selalu membuat orang ceria. Saya pun mencatat hal di bawah ini baik-baik:

Ketika orang ceria, ia berada pada tingkat kecerdasan tertingginya;

Dan

Ketika orang galau, gelisah, marah, ia berada pada tingkat kebodohan tertingginya.

Membuat Lagu ala Pak Djito

Ketika ditanya bagaimana proses menulis sebuah lagu anak. Beliau mengungkapkan;

Penyusunan syair bisa dimulai dengan menentukan tema apa yang dipilih. Kemudian, Dalam tema itu kita mau bicara apa.

Misalnya; tema buah-buahan. Kita pilih jeruk. Nah jeruk itu ada apanya? Bagaimana warnanya? Sisi menariknya apa? Bagaimana rasanya? Dari jawaban pertanyaan-pertanyaan itulah, kita bisa menyusun syair.

Kemudian sewaktu menyusun melodi, penulis sebaiknya langsung merekamnya baik dengsn handphone atau recorder. Alasan praktisnya,”keburu lupa.”

Setelah berbicara demikian, mobil jemputan kami datang untuk mengangkut kami dari Taman Mini Indonesia Indah ke Thamrin, tempat acara kami dilanjutkan.

Pulse Nadi anak itu cepat

Acara ditutup di Hotel Molvcca Thamrin. Setelah penutupan, saya menemui Prof. Dr. Rien Safrina, P.hd, salah satu juri, akademisi seni musik dari UNJ yang mendalami lagu anak. Beliau membagikan beberapa pandangannya;

1. Ketika membuat lagu anak, seorang pencipta harus berfokus dan mempertimbangkan bahwa lagu ini akan dinyanyikan anak-anak. Maka, kesederhaan melodi menjadi hal yang sesuai.

2. Perlunya kesadaran untuk membuat lagu yang bervariasi; baik sukat (time signature selain 4/4) atau mengeksplorasi struktur “call and response”. Di luar negeri, beliau menemukan bahwa ada lagu-lagu yang khusus dibuat untuk mempelajari nada-nada tertentu. Misalnya , sol dan mi. Keseluruhan lagunya didominasi oleh nada itu. Kemudian sesuai dengan tingkat usianya, nada-nada dalam lagu semakin kompleks.

3. Pulse nadi anak usia PAUD itu cepat, maka mereka menyukai lagu dengan tempo cepat.

Senang sekali bisa bertemu dengan orang-orang yang memenangkan cipta lagu Paud 2016 ini dari 300-an karya yg lain baik dari latar belakang musik maupun praktisi/ pengajar di bidang Paud; Yafet Nugroho, Heryanto, Rocky Irvano, Izul Afidah, Almira Salsabila, Dr. Jefry, Husni, Debora Pujo, Endang Sunarsih, Sekar Lintang, Tuak Drum, Sigit Purnomo, Novi Dwi, dan Arie Widiana.

Juri yang lain; Pak Sujono, Pak Sartana, dan 5 juri yang lain.

Trims untuk panitia; mbak Ekowati, Arika, Dona, Sari, Yuyud,Yengki,dan Fadli.

Semoga catatan ini bermanfaat.😊🙏🏻

image

image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *