Musik untuk film “Jamu: Saking Wingking Mengajeng”

Ini adalah musik film yang baru selesai saya kerjakan dan telah diputar perdana pada Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada tanggal 2 Desember 2016 lalu. “Film Jamu: Saking Wingking Mengajeng” karya Nur Wucha Wulandari menceritakan kisah seorang ibu rumah tangga sekaligus orang yang memenuhi sebagian besar kebutuhan keluarganya dengan membuat dan berjualan jamu.
Apa yang bisa disoroti dari potongan karya musik untuk film ini?
Kutipan ini adalah 10 birama pertama dalam cue akhir dalam film ini. Modus pada empat birama pertama adalah pentatonis. Mengapa pentatonis? Bagaimanapun tidak bisa dipungkiri pentatonis selalu mengesankan:
a. Rasa keren (Dengarkan tutti pada awalan “Shoot The Sherif” karya Bob Marley yang termasyur itu).
b. Pentatonis memunculkan rasa klasik “Asia” (Dengarkan sountrack film-film Jet Lee atau “The Girl with Flaxen Hair”- nya Debussy)
c. Rasa ndeso atau tradisi (dengarkan karya-karya Gus Teja yang sering anda dengar jika anda berbelanja di Krisna – Bali)
Saya memilih tangga nada ini karena tokoh utama amat mengesankan “ke-ndeso-an yang mewah”. Ke-ndeso-an ini mewah karena penggambaran usaha tiap hari seorang penjual jamu tradisional mempertahankan hidup dan menyekolahkan anaknya itu begitu humanis. Perjuangan sehari-hari orang ndeso inilah yang sebenarnya “mewah”. “Mewah” bukan dalam arti gemerlap, grande, megah, tetapi mewah karena kita semakin kangen dengan hal-hal yang humanis seperti ini.
Lalu mengapa semuanya pentatonis hanya diletakkan pada birama awal? Kenapa tidak dilanjutkan saja secara konsisten?
Menurut naluri saya, empat birama adalah jumlah yang cukup untuk mensugesti penonton dengan nuansa ini. Kemudian, amatlah terlalu vulgar jika saya meneruskan nuansa ini tanpa sedikit mematahkannya dengan menghadirkan si dan fa. Dalam “Girl with the Flaxen Hair” Debussy malah menggunakan modus ini hanya dalam dua birama awal, birama ketiga dia sudah memunculkan nada “si” dalam melodinya. Namun, toh rasa “pentatonis” itu sudah cukup mensugesti pendengar.
Tanpa Instrumen String
Semula saya menambahkan string dengan tekstur dan gerakan yang dinamis . Namun, Sutradara memiliki visi lain yang mengharuskansaya untuk menghapus instrumen string sehingga menyisakan part seperti yang anda lihat di atas.
Sebagai pembentuk tekstur, gerakan yang saya manfaatkan secara maksimal adalah gerakan bass (tangan kiri pada piano). Saya tidak diijinkan untuk menciptakan rasa “naik” dengan teknik penambahan instrumentasi (misalnya dengan menambah timpani, simbal, atau brass pada bagian akhir). Saya juga tidak mungkin menambah kerapatan ritmis, karena pasti akan mengganggu emosi film. Maka saya memilih untuk mengeksplorasi gerakan register bass (tangan kiri) untuk mendapatkan rasa ” lebar” dan “naik”. Saya sadari saya perlu membuat kalimat musik yang pada birama pertama berisi nada dengan range yang sempit, dan berakhir pada birama sepuluh pada range yang sangat lebar.
# Permainan seperti ini akan menguntungkan kita jika sutradara menginginkan musik yang terasa “naik” tanpa harus menambah instrumen.
Cara kedua yang saya tempuh adalah memanfaatkan reverb dan sustain yang agak lebai (reverb “basah” dan sustain panjang). Saya membutuhkan tabrakan sustain antara nada-nada untuk menciptakan nuansa yang penuh. Kombinasi tabrakan nada-nada sustain ini menciptakan efek seperti sound “pad” yang semula diperankan oleh string panjang.
Jadi ada tiga catatan dalam proses scoring film ini;
a. Pemanfaatan modus pentatonis; kita masih bisa memasukkan nada fa dan si, pada saat yang tepat. Maka modus senarnya bukanlah batasan, selama nuansa terjaga, kita masihlah amat bisa menggunakan nada-nada di luar modus itu.
b. Pemanfaatan kontras sempit lebarnya range nada dalam musik dengan tone colour terbatas untuk menciptakan nuansa yang dinamis.
c. Pemanfaatan sustain dan reverb untuk menggantikan peran string atau pad, ketika string atau pad tidak diinginkan.
Akhir kata selamat, Wucha Wulandari, Nastit, dan timnya atas lahirnya film ini.
Ciao. Semog Bermanfaat.
Saksikan Mbok Jamu, hari ini 2 Desember 2016.
– Tunisian Hacker

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *